Kamis, 06 Oktober 2011

DragOn treE

Dragon tree atau yang memiliki nama lain Dracaena cinnabari adalah tanaman suji yang berasal dari kepulauan Socotra. Tumbuhan ini juga dikenal sebagai Suji Socotra dan Dragon Blood Tree (Suji Darah). Floar ini dijuluki demikian karena getah merah yang diproduksi oleh tumbuhan ini. Tumbuhan ini pertama kali dideskripsikan oleh Isaac Bayley Balfour pada tahun 1882. Lambang miniatur pohon ini digunakan oleh Windows sebagai Network-Icon.
                                                   
Ditemukan di Vinos de los di Tenerife, salah satu dari Kepulauan Canary, dan dikatakan antara 650 dan 1.500 tahun. Spesimen ini mewarisi nama dari asal-usul mitos: Hercules untuk membawa kembali tiga apel emas dari taman Hespérides, yang dijaga oleh Landon, naga berkepala seratus.
Hercules membunuh Landon dan darahnya mengalir di atas tanah, ketika itu mulai tumbuh pohon ‘naga’, dan bila ada orang yang memotong dahan pohon tersebut, getahnya berwarna merah, orang-orang menyebutnya sebagai darah naga.
Pohon ini juga dikenal dengan pohon darah naga karena mengeluarkan getah yang berwarna merah. Hidup di pulau Socotra yang terkenal karena keaslian dan keanekaragaman hayati mengantarkan pulau ini sebagai salah satu warisan budaya UNESCO yang ada di Yaman. Bentuk pohon yang seperti payung-payung ini memiliki kelebihan tersendiri bagi pohon ini untuk bertahan karena hidup dikawasan yang bersuhu sangat panas sehingga mampu membantu mengurangi proses penguapan karena terlindung oleh dedaunannya yang rimbun.
Pohon dragon tree ini menjadi salah satu ciri khas pulau soscotra, sebgaimana kita tau bahwa pulau socotra dikenal sebagai kawasan dengan gelar ‘neraka dunia’hal itu hal itu terkait dengan salah satu hadis yang menyebut tempat Dajjal dikurung ialah Laut Yaman wallahu' alam karena hal tersebut berkaitan erat dengan hal ghaib. Sebagai pulau terbesar daripada empat pulau di Lautan Hindi, Socotra terletak kira-kira 240 kilometer ke timur Afrika Timur. Ia pulau terpencil dan satu pertiga daripada tumbuhan di situ, termasuk pokok gergasi tidak akan ditemui di tempat lain. Socotra amat aneh sehingga digambarkan sebagai tempat paling pelik di bumi.


Kepulauan Socotra di Yaman yang dikenali juga sebagai ‘The Roof of Arabia’. Yang sangat menarik ialah flora dan fauna serta landscape yang tak pernah kita tengok di tv atau pun media cetak sebelum ini. Kepulauan Socotra baru saja di calonkan sebagai ‘one of the new seven wonders of the word’. UNESCO pula mengiktiraf Socotra Island sebagai ‘world heritage site’ baru-baru ini.
Pulau Socotra yang terletak kira-kira 210 meter di luar Semenanjung Arab. Socotra merupakan dunia asing bagi penduduk Yaman sendiri. Penduduk di situ menggunakan bahasa mereka yang tersendiri yaitu bahasa Soqotri. Hanya akhir-akhir ini, pulau ini boleh dikunjungi dengan bot tetapi tetap terpisah dari dunia luar apabila musim monsun tiba dari bulan Jun hingga September.
Pulau terpencil ini hanya didiami sekitar 40.000 orang. Nama Socotra itu sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya “Pulau Kebahagiaan”. Banyak pohon dan tumbuhan di pulau ini termasuk dalam kategori flora endemis, yang artinya tidak ditemui di tempat lain di dunia selain di pulau Socotra. Bahkan ada beberapa varieti yang diprediksikan telah mencapai usia 20 juta tahun.
Kelainan kejadian di sebuah pulau di Laut Arab, muka laluan ke Teluk Eden. Ciptaan Allah Subhana Wa Ta’ala yang tidak terdapat di lain tempat di dunia.
 
Sejarah pulau Socotra
Nama socotra berasal dari bahasa sansekerta, ‘sukhadhara dvipa’ yang berarti “pulau kebahagiaan“. Menurut sejarah, penduduk pulau socotra telah memeluk Kristen sejak tahun 52 setelah masehi. Pada abad 10, seorang ahli geografi Arab yang bernama Abu Muhammad Al-Hassan Al-Hamdani menyatakan bahwa pada masanya, penduduk Socotra majoriti memeluk agama Kristen. Konon mereka juga telah mempraktikkan ritual sihir kuno.

Pada tahun 1507, armada Portugis mendarat di pulau ini. Tujuan mereka adalah untuk menghentikan perdagangan Arab dari Laut Merah ke Samudra Hindi serta untuk menghapuskan aturan-aturan Islam dalam perdagangan tersebut. Namun, invasi Portugis ini tidak berjaya karena penduduk setempat menentang mereka. Pada tahun 1511, pulau ini dikuasai oleh Kesultanan Mahra. 456 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 30 November 1967, Pulau Socotra menjadi bagian dari Republik Rakyat Yaman Selatan yang pada saat ini telah berubah menjadi Republik Yaman.

Pengakuan Oleh UNESCO
Pulau ini diakui UNESCO sebagai satu warisan alam dunia pada Julai 2008. Perlindungan keterlaluan terhadap pulau ini hingga tidak dibangun fasiliti bagi pengunjung seperti hotel, restoran, dan bangunan lainnya meski pulau ini memiliki potensi sebagai tempat bercuti yang luar biasa.


Hal Lain Mengenai Pulau Ini
Bahasa asli penduduk di pulau ini adalah Bahasa Semit Soqotri yang hanya diucapkan di pulau Socotra. Terlepas dari keindahan alam Pulau Socotra, banyak ilmuwan yang tertarik dan meneliti pulau yang memiliki flora dan fauna yang boleh saya katakan “lain dari yang lain” . Sebahagian ilmuwan berpendapat flora dan fauna di pulau ini merupakan spesies yang hidup di masa lampau dan belum pernah diidentifikasi sebelumnya. Karena letak pulau yang terasing dari dunia luar dan karakteristik iklimnya yang unik, flora dan fauna ini masih bertahan hidup hingga saat ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar